33 hari di Sulawesi Barat

Menolong saudara yang memerlukan ulur tangan serta memberi penghiburan kepada orang yang bersedih adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Tuhan menciptakan manusia untuk saling menolong dan mengasihi. Hal itulah yang dilakukan relawan kebencanaan.

Selama 33 hari saya berada di kecamatan Ulumanda, salah satu kecamatan yang terdampak bencana gempa bumi. Saya menjadi relawan disana. Ketika saya baru datang, masyarakat masih bersedih dan trauma karena mengalami bencana tersebut. Mereka tinggal di tenda dan rumah panggung dari kayu. Beberapa rumah disana roboh, rusak berat, dan rusak ringan. Hal yang disyukuri, tidak ada korban jiwa di kecamatan tersebut.

Program yang dilaksanakan selama 33 hari adalah trauma healing, membantu program belajar luring (luar jaringan), serta pengembangan komunitas (Comdev). Trauma healing diberikan kepada anak-anak, remaja dan orang tua. Trauma healing kepada anak-anak dan remaja dilakukan melalui kegiatan bermain, menyanyi, menggambar, dan menanamkan pendidikan respon bencana. Sedangkan kepada orang tua kami memberikan pelatihan mengatasi trauma, serta berkunjung kerumah-rumah untuk trauma healing kepada lansia.

Program luring (luar jaringan) adalah program pendidikan yang dilaksanakan sekolah selama pandemic. Program ini dilaksanakan karena di dearah tersebut tidak bisa mengakses internet. Dalam membantu program belajar luring, kami melakukan kegiatan belajar di 4 tempat. Yang pertama di dusun Kabiraan, kedua di dusun Ba’ba Sondong, ketiga di dusun Tammerimbi, dan di desa Sulai. Siswa yang kami damping adalah siswa SD dan SMP. Di dusun Kabiraan ada 15 anak yang didampingi, di dusun Ba’ba Sondong ada 15 anak, di dusun Tammerimbi ada 10 anak, serta di desa Sulai ada 5 anak. Kami memberikan materi pelajaran yang interaktif dan inovatif kepada mereka.

Pengembangan komunitas (Comdev) dilaksanakan dengan memberikan pelatihan keterampilan baru dan mendorong warga untuk mengembangkan keterampilan dan sumber daya yang dimiliki. Pelatihan keterampilan baru yang diberikan adalah menyulam dan membuat bunga dari kain flannel. Pelatihan ini ditujukan kepada anak-anak dan remaja. Kami juga mendorong warga untuk mengembangkan keterampilan memasak bagi yang memiliki hobi memasak. Banyak warga yang mempunyai beras merah dan meras hitam yang seharusnya dapat menjadi sumber penghasilan bagi mereka, akan tetapi selama ini sumber daya tersebut hanya dikonsumsi pribadi karena belum bisa memasarkannya. Kami mendorong warga untuk dapat mengolah dan memasarkannya.

2 minggu setelah kedatangan kami, warga sudah mulai pulih dari trauma dan mulai menjalankan aktifitas biasanya, seperti bekerja dan berkebun. Anak-anak dan remaja sudah ceria dan mulai melupakan traumanya. Mereka mulai bermain dan belajar kembali. Beberapa warga mulai membuat rumah huntara (hunian sementara) sendiri dari papan yang mereka miliki. Orang-orang yang tinggal ditenda sudah mulai berkurang. Suatu hal yang luar biasa ketika warga di Ulumanda cepat pulih dari kesedihan dan keterpurukan mereka

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.